Perjalanan pulang dari kampus ke kosan saya tempuh dengan jalan kaki, kadang pula saya naik sepeda. Perjalanan lumayan jauh sekitar tiga kilometer yang harus saya tempuh. Perjalanan menuju ke kosan butuh tenaga dan mood lebih. Karena melelahkan sekali. Saya ketika jalan melihat motor meraung gas serasa cepat dibandingkan saya yang jalan perlahan-lahan sambil menikmati pemandangan sekitar.

Lamanya perjalanan saya tergantung saya sendiri untuk memilih berjalan cepat, lambat, atau berhenti sejenak untuk menarik napas, kadang saya beli jajan untuk memanjakan mood saya. Dalam perjalanan itu saya merasa seperti sedang menguji diri sendiri, apakah saya mampu konsisten dengan pilihan saya untuk berjalan pelan di tengah dunia yang serba cepat. Jalan itu menjadi ruang kecil tempat saya belajar sabar tanpa disuruh siapa pun.

Ketika berjalan saya berpikir, mengapa saya betah dengan situasi berjalan seperti ini? Mungkin yang saya pikirkan itu sebuah proses berjalannya. Memang tujuan kebanyakan orang itu tujuan akhir. Namun bagi saya proses itu sebuah nikmat yang harus dinikmati sepanjang jalan. Apalagi saya mahasiswa sejarah yang mengamini perkataan Kuntowijoyo dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, “sejarah itu mementingkan proses”. Dari sinilah saya tersadar bahwa yang saya lakukan itu sebuah pengamalan dari apa yang saya pelajari selama ini.

Coba bayangkan jika sejarah dibaca secara cepat seperti pernah saya lakukan ketika mau presentasi. Hasilnya tidak menempel dan esensi dari sejarah itu hilang sekejap. Namun jika saya membaca secara perlahan seperti saya berjalan kaki, saya bisa menikmati pemandangan seluruh argumentasi dan narasi di dalam sejarah. Apa yang dibangun oleh sejarah bisa membangun kesadaran dan pengetahuan saya atas apa yang tersampaikan kepada saya. Saya merasa membaca sejarah dan berjalan kaki sama-sama menuntut kesediaan untuk hadir sepenuhnya dalam setiap langkah dan setiap kalimat.

Memang saya berjalan begitu sunyi, hanya suara hati saya yang terus berdialog seolah-olah saya berjalan ini berbicara kepada diri saya, bahkan saya berbicara dengan sejarah yang sempat saya pelajari di perkuliahan. Sesuai apa yang dikatakan Carr di dalam buku What Is History?, dia mengatakan sejarah merupakan dialog di masa lalu, masa kini, dan masa depan. Jadi saya sering ketika saya berjalan mengaitkan sejarah sebagai suatu proses yang hasilnya merupakan masa sekarang. Semua yang ada seisinya merupakan hasil jerih payah proses sejarah. Dan saya terus berdialog kembali apakah saya bisa meramalkan masa depan sesuai yang dikatakan Carr tadi bahwa masa depan dapat menjadi bagiannya.

Saya merenung kembali. Setiap saya jalan pasti saya melihat kejadian yang mirip dengan yang sebelumnya saya lihat, contohnya ketika berjalan melihat ambulans lewat. Di situ waktu pasti ada. Pola-pola itu terbentuk bahwa setiap malam pasti ada ambulans dan mungkin kemudian hari ambulans itu akan hadir lagi, begitu pun sejarah. Peristiwa sejarah terus berulang polanya seperti Perang Dunia yang berulang kali terjadi. Kadangkala berulang kali masuk lubang yang sama. Walau sudah tahu itu akan menimbulkan marabahaya, tetap saja akan menghantam lubang itu. Dari pengamatan kecil itu saya belajar bahwa sejarah bukan sesuatu yang jauh, tetapi hadir dalam ritme keseharian yang sering kita abaikan.

Lelah juga jika kejadian terus berulang. Saya jadi teringat perkataan Hegel bahwa yang dapat kita pelajari dari sejarah adalah manusia tidak pernah benar-benar belajar darinya. Perang terjadi lagi, krisis terulang lagi, kekuasaan menyimpang lagi. Seolah-olah sejarah bukan guru, melainkan cermin yang terus kita tatap tanpa pernah benar-benar memahami bayangan kita sendiri. Dibanding apa yang dikatakan oleh Ir. Soekarno, “jangan sekali-kali melupakan sejarah”, seakan-akan Soekarno menyiratkan bahwa kita tidak boleh sedikit pun melupakannya, namun hal itu membuat lelah jika terus-menerus mengingat.

 Saya pun butuh namanya jeda. Berjalan kaki pun butuh istirahat. Sekalipun sejarah butuh refleksi karena tidak terus-menerus belajar. Bisa dilihat setelah perang ada perundingan. Setelah krisis ada evaluasi. Tanpa jeda, semuanya itu hanya akan jadi kelelahan yang panjang. Saya menyadari bahwa mengingat bukan berarti terus-menerus menatap luka, tetapi memberi ruang untuk memahami dan kemudian melangkah lagi dengan lebih bijak.

Saya juga pernah jalan waktu mahasiswa baru. Berjalan kaki ke Banten Lama. Lebih jauh dari apa yang saya ceritakan tadi. Saya waktu itu ingin putus asa, namun anehnya saya terus berjalan dengan puas yang tidak bisa saya jelaskan. Sepertinya saya sedang menulis sejarah lokal yang sulit dan rumit, jauh dari kemudahan. Namun memuaskan karena merasa benar-benar menyentuh sesuatu yang nyata. Nyata saya bisa menempuh ke Banten Lama, saya bisa ziarah. Namun saya tidak ziarah kubur, melainkan ziarah sejarah. Yang pernah dikatakan oleh dosen saya Pak Umar di dalam esainya, bahwa ziarah sejarah sama-sama mengingat.

Namun ziarah sejarah mengingat bekas-bekas dari peradaban Islam di Banten ini. Yang saya sampaikan tadi bahwa sejarah lokal lumayan susah untuk menemukan sumbernya, apalagi harus pelan-pelan membaca huruf-huruf yang saya belum paham atau mencari benang merahnya dari seluruh peristiwa yang ada di Banten Lama ini. Dari pengalaman itu saya semakin yakin bahwa kesulitan sering kali menjadi jalan untuk memahami sesuatu dengan lebih dalam.

Perjalanan jalan kaki ini lumayan melelahkan, namun dari sini saya mendapatkan ketenangan dan perlahan-lahan. Jadi apa yang saya inginkan tidak selalu cepat tercapai. Mungkin dari berjalan ini juga saya bisa belajar bagaimana menahan nafsu ingin cepat seperti naik motor. Begitulah yang saya pelajari dari sejarah ini. Saya bisa belajar sebuah proses. Proses untuk saya hidup sampai saya menutup mata terlelap ngantuk. Dalam langkah-langkah kecil itu saya merasa sedang membentuk diri saya sendiri, sedikit demi sedikit, tanpa tergesa-gesa, seperti sejarah yang berjalan pelan namun pasti. Saya sadar bahwa hidup bukan perlombaan siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling mampu memahami arti setiap perjalanan yang ditempuhnya.

Rafif Abbas Pradana mahasiswa Pendidikan Sejarah dan pengurus aktif UKM Belistra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *