Sejarah selalu diajarkan di sekolah, dari SD hingga bangku kuliah. Namun, pertanyaan dasarnya sering luput kita ajukan: apa sebenarnya sejarah itu. Apakah ia sekadar pelajaran tentang masa lalu yang harus dihafal, berisi tanggal, nama tokoh, dan urutan peristiwa. Selama ini, sejarah kerap hadir di ruang kelas sebagai hafalan, bukan sebagai ruang berpikir. Dari sini muncul keraguan yang wajar, apakah buku pelajaran sejarah yang kita baca benar-benar seratus persen objektif, atau justru menyimpan kepentingan tertentu di baliknya.
Sejarah sebagai Proses dan Dialog Waktu
Untuk menjawab kegelisahan itu, E H Carr melalui bukunya What Is History? menawarkan cara pandang yang berbeda. Buku yang pertama kali terbit pada tahun 1961 ini tidak memberi definisi kaku tentang sejarah, melainkan mengajak pembacanya memahami sejarah sebagai sesuatu yang hidup. Bagi Carr, sejarah bukan kumpulan fakta mati yang sudah selesai, tetapi proses penafsiran yang terus berlangsung.
Carr menjelaskan bahwa fakta sejarah tidak pernah berbicara dengan sendirinya. Dari begitu banyak peristiwa dan dokumen yang tersisa dari masa lalu, sejarawanlah yang memilih mana yang dianggap penting untuk ditulis. Proses pemilihan ini tidak pernah benar-benar netral. Ia dipengaruhi oleh sudut pandang, nilai, serta kondisi sosial masyarakat di zaman sejarawan itu hidup. Dengan demikian, sejarah merupakan dialog yang tidak pernah selesai antara masa kini dan masa lalu.
Pemikiran Carr membawa dampak penting bagi cara kita membaca sejarah. Ia mendorong sikap kritis. Ketika membaca buku pelajaran atau berita tentang peristiwa sejarah, kita tidak lagi berhenti pada isi ceritanya saja, tetapi mulai bertanya: siapa yang menulisnya, dari sudut pandang apa, dan apa yang mungkin tidak disampaikan. Sikap ini bukan untuk menuduh sejarah sebagai kebohongan, melainkan untuk menyadari bahwa setiap penulisan sejarah selalu memuat sudut pandang tertentu.
Fakta, Seleksi, dan Sudut Pandang Sejarawan
Sejarah bukan fakta jadi-an. Fakta tidak pernah hadir begitu saja sebagai sesuatu yang netral dan selesai. Fakta selalu melalui proses pemilihan dan penafsiran. Proses ini, sesederhana apa pun, tetap melibatkan sudut pandang. Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya pada berita di televisi. Dalam satu hari ada begitu banyak peristiwa yang terjadi, tetapi tidak semuanya ditampilkan. Redaksi memilih mana yang dianggap penting dan layak diberitakan. Pilihan tersebut bukan sesuatu yang alamiah, melainkan hasil dari pertimbangan dan cara pandang tertentu.
Hal yang sama berlaku dalam sejarah. Dari jutaan peristiwa di masa lalu, sejarawan tidak mungkin mencatat semuanya. Ia harus memilih peristiwa mana yang menurutnya penting untuk ditulis. Karena itu, fakta sejarah bukan sekadar apa yang terjadi, melainkan apa yang dipilih untuk dihadirkan. Sejarah lahir dari proses seleksi, bukan dari penumpukan peristiwa semata.
Pilihan ini sangat mungkin dipengaruhi oleh latar belakang sejarawan dan zamannya. Pendidikan, pengalaman hidup, serta situasi sosial dan politik ketika ia menulis ikut membentuk cara pandangnya terhadap masa lalu. Carr menegaskan bahwa fakta sejarah adalah fakta yang telah dipilih oleh sejarawan. Fakta tidak berbicara dengan sendirinya, tetapi diberi makna melalui tafsir penulisnya.
Dengan pemahaman ini, sejarah tidak lagi dipandang sebagai kebenaran yang sepenuhnya objektif dan final. Ia selalu terbuka untuk dibaca ulang dan ditafsirkan kembali. Sejarah bergerak bersama waktu, dan setiap zaman menghadirkan cara pandangnya sendiri dalam memahami masa lalu.
Sejarah, Kekuasaan, dan Sikap Kritis Pembaca
Contoh nyata dapat kita lihat dalam penulisan sejarah kemerdekaan. Cara peristiwa kemerdekaan diceritakan di Indonesia tentu berbeda dengan versi yang berkembang di Belanda atau Jepang. Perbedaan ini bukan semata-mata soal siapa yang benar dan siapa yang berbohong, melainkan tentang sudut pandang mana yang lebih dominan ketika sejarah itu ditulis. Setiap pihak membawa kepentingan, pengalaman, dan posisinya masing-masing dalam melihat peristiwa yang sama.
Dalam konteks ini, sejarah tidak pernah menjadi cerita tunggal. Ia merupakan hasil tarik-menarik berbagai perspektif. Versi yang kita kenal hari ini sering kali adalah versi yang dilegitimasi oleh kekuasaan dan diterima sebagai kebenaran umum. Sementara itu, versi lain bisa saja tersingkir, dilupakan, atau hanya hidup sebagai fragmen yang jarang dibicarakan.
Carr mengajak kita untuk menyadari kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa sejarawan tidak menulis dari ruang hampa, melainkan dari dunianya sendiri. Kesadaran ini tidak dimaksudkan untuk menolak sejarah, tetapi untuk memahaminya secara lebih jujur dan kritis.
Hal serupa dapat dilihat pada peristiwa G30S PKI. Selama bertahun-tahun, narasi tentang peristiwa ini didominasi oleh satu versi tertentu yang diajarkan secara luas dan membentuk ingatan kolektif masyarakat. Baru kemudian muncul upaya untuk membaca ulang, membuka arsip, dan mendengar suara-suara yang sebelumnya terpinggirkan. Ini menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai.
Pesan untuk kita sekarang adalah agar tidak menelan mentah-mentah setiap konten sejarah yang kita temui, terutama di media sosial. Ketika membaca berita atau konten sejarah, kita perlu bersikap lebih kritis dengan menanyakan siapa yang menulisnya, kapan ia menulisnya, dan mengapa tulisan itu dibuat. Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini membantu kita memahami posisi dan sudut pandang penulisnya.
Sejarah selalu hidup karena setiap generasi memiliki pertanyaan baru terhadap masa lalu. Oleh karena itu, penafsiran sejarah dapat terus diperbarui. Jika dahulu sejarah lebih banyak berisi kisah raja dan perang, kini semakin banyak penelitian yang memberi perhatian pada kehidupan rakyat biasa dan tema-tema yang dekat dengan pengalaman sehari-hari.
Bagi Carr, sejarah adalah dialog tanpa akhir antara masa lalu dan masa kini. Masa kini mengajukan pertanyaan, sementara peninggalan masa lalu berusaha menjawabnya. Kesadaran inilah yang mengantar kita menjadi pembaca sejarah yang lebih cerdas. Sebelum mempercayai atau menyebarkan satu cerita sejarah, ada baiknya kita terlebih dahulu memahami latar belakangnya. Dengan begitu, sejarah tidak lagi menjadi hafalan semata, melainkan ruang berpikir yang terus hidup.

