
Bayangkan sejenak: kamu sedang berjalan di antara bangunan tua di kawasan Kota Tua Jakarta. Atau sedang duduk santai di tepi Sungai Melaka yang tenang sambil menikmati secangkir kopi pada sore hari. Suasananya sejuk, menenangkan, dan sarat nuansa sejarah. Namun, pernahkah terpikir bahwa dua kota ini, Batavia dan Melaka dulunya pernah menjadi pusat dunia? Ini bukan sekadar kota tua tempat swafoto. Dahulu, keduanya adalah jantung perdagangan Asia Tenggara.
Jika kita menengok kembali ke abad ke-15, Melaka sudah menjadi pelabuhan bertaraf internasional. Kapal-kapal dari India, Tiongkok, Arab, hingga Nusantara singgah di sana. Tomé Pires, seorang penjelajah Portugis, pernah berkata:
“Whoever is lord of Malacca has his hand on the throat of Venice.” ¹
Artinya, siapa pun yang menguasai Melaka mengendalikan jalur perdagangan dunia Timur. Seperti mengatur arus distribusi barang-barang mewah dunia. Dan pada masa itu, barang mewah itu tak lain adalah rempah-rempah.
Di sisi lain, wilayah yang kini menjadi Jakarta juga telah memiliki pelabuhan penting, yakni Sunda Kelapa, yang kemudian dikenal sebagai Jayakarta. Wilayah ini memegang peranan strategis dalam jalur perdagangan rempah. Komoditas dari Banten, Cirebon, hingga Maluku dikirim ke pelabuhan ini, untuk kemudian dilanjutkan ke Melaka dan pelabuhan lain.
Namun sejarah tidak selalu berjalan mulus. Pada tahun 1511, Portugis datang dan merebut Melaka. Kemudian, pada awal abad ke-17, Belanda hadir melalui VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie), kongsi dagang Hindia Belanda. Mereka tidak datang sekadar berdagang. Pada tahun 1619, mereka menghancurkan Jayakarta dan membangun kota baru di atas puingnya: Batavia.
Mengapa Belanda membangun Batavia? Karena mereka ingin memiliki pusat kendali yang bisa diatur sejak awal, sesuai dengan visi mereka. Jika Melaka adalah kota warisan dengan pengaruh lokal yang kuat, maka Batavia dibangun sebagai kota baru, dirancang dengan sistem yang rapi. Kanal-kanal dibuat, bangunan bergaya Eropa didirikan, dan tata kota disusun menyerupai Amsterdam. Tak mengherankan jika Batavia kemudian dijuluki “Amsterdam di Timur.”

( Gambar 1. Lukisan Kota Batavia berjudul Vue de l’Isle et de la ville de Batavia appartenant aux Hollandois, pour la Compagnie des Indes.)
Batavia bukan hanya menjadi pusat pemerintahan kolonial, tetapi juga pusat logistik dan perdagangan. Seluruh jalur rempah dari Maluku, Ambon, hingga Sumatra dikoordinasikan dari sini. Anthony Reid menyebut Batavia sebagai semacam “markas besar VOC di Asia.”²
Namun, kehidupan di Batavia tidak selalu setara bagi semua. Kota ini dibagi secara sosial dan etnis: kawasan Eropa, kawasan Tionghoa, dan kawasan pribumi. Menurut Purnawan Basundoro, pembagian ini bukan sekadar penataan tempat tinggal, melainkan juga sistem kekuasaan. Siapa tinggal di mana dan siapa memiliki akses terhadap sumber daya sudah ditentukan sejak awal.³
Sementara itu, peran Melaka perlahan menurun. Setelah direbut dari Portugis oleh Belanda pada tahun 1641, fungsinya merosot menjadi pelabuhan pelengkap. VOC lebih memusatkan aktivitasnya di Batavia. Melaka tetap penting, tetapi tidak lagi menjadi pusat.
Jika disandingkan, Batavia ibarat adik ambisius yang disiapkan menjadi “anak unggulan”, sementara Melaka adalah sang kakak yang dahulu gemilang, namun harus mundur perlahan.
Kini, mari kita melompat ke masa sekarang. Pada 7 Juli 2008, Melaka ditetapkan sebagai Warisan Dunia oleh UNESCO. Kawasan kota tuanya dilestarikan, Sungai Melaka dibersihkan, bangunan kolonial dirawat. Wisatawan datang bukan sekadar untuk berfoto, melainkan juga belajar sejarah.
Bagaimana dengan Batavia? Kawasan Kota Tua Jakarta masih berjuang. Beberapa bangunan memang telah direnovasi, namun sebagian lainnya masih terbengkalai. Kanal-kanalnya sebagian besar telah ditutup. Belum diakui oleh UNESCO. Padahal, secara historis, Batavia sangat penting. Kota ini pernah menjadi ibu kota Hindia Belanda dan pusat kekuasaan kolonial Asia Tenggara.
Mengapa Melaka bisa lebih dahulu mendapat pengakuan? Salah satu faktornya adalah keseriusan Malaysia dalam mengelola sejarahnya. Pemerintah mereka melihat kota tua bukan sebagai beban, tetapi sebagai aset. Berbeda dengan Jakarta, yang masih sibuk mengejar pembangunan baru, sering kali melupakan warisan masa lalu.
Padahal, jika dipikirkan ulang, sejarah bukan hanya untuk dikenang, tetapi bisa menjadi kekuatan ekonomi. Wisata sejarah, pendidikan, dan kebanggaan budaya bisa tumbuh jika kita tahu cara merawat warisan masa lampau.

( Gambar 1.1 Jalur Sutera dan Jalur Rempah versi UNESCO, Sumber: http://en.unesco.org/silkroad/content/what-are-spice-routes )
Dalam buku Jalur Rempah, dijelaskan bahwa jaringan perdagangan masa lampau tidak hanya soal pertukaran barang, tetapi juga ilmu pengetahuan, kepercayaan, dan jaringan sosial.⁴ Bayangkan para pelaut Bugis, Riau, dan Makassar menjadi bagian dari sistem pelayaran yang luas. Mereka bukan hanya pengangkut barang, tetapi penghubung antardunia.
Sayangnya, banyak cerita seperti itu perlahan menghilang. Sejarah kolonial mendominasi buku pelajaran, sementara kisah para pelaut lokal dan kota-kota pelabuhan Nusantara hanya menjadi catatan kecil.
Bondan Kanumoyoso dalam penelitiannya menyatakan bahwa pelaut Nusantara tetap aktif meski kolonialisme menekan dari berbagai arah.⁵ Mereka cerdas, lincah, dan memiliki pengetahuan kelautan yang mendalam. Namun pada akhirnya mereka pun kalah oleh sistem kolonial yang makin kuat.
The Cambridge History of Southeast Asia juga menyebutkan bahwa Batavia dibentuk sebagai pusat kolonial yang dirancang secara sistematis, dari administrasi, militer, hingga pengendalian ekonomi.⁶ Wajar bila dampaknya masih terasa hingga kini: dari pola ruang kota, struktur ekonomi, hingga cara kita memahami sejarah yang banyak dibentuk oleh masa kolonial.
Lantas, apa pelajaran yang bisa kita ambil?
Pertama, kita perlu menyadari bahwa kota memiliki jiwa. Kota bukan sekadar bangunan dan jalan. Mereka menyimpan cerita, luka, dan masa lalu. Kedua, jangan menganggap sejarah sebagai kewajiban sekolah semata. Sejarah adalah identitas. Semakin kita mengenal masa lalu, semakin kita paham siapa kita sekarang. Dan terakhir, kota tua seperti Melaka dan Batavia bisa menjadi jendela untuk memahami dunia.
Jangan menunggu semuanya hancur dahulu baru kita peduli. Bangunan masih bisa dibangun kembali. Tapi cerita? Jika sudah hilang, sangat sulit untuk dikembalikan.
Catatan Kaki:
- Tomé Pires, The Suma Oriental of Tomé Pires, ed. Armando Cortesão (London: Hakluyt Society, 1944), hlm. 268.
- Anthony Reid, Southeast Asia in the Age of Commerce, 1450–1680, Vol. 2: Expansion and Crisis (New Haven: Yale University Press, 1993), hlm. 83–88.
- Purnawan Basundoro, Pengantar Sejarah Kota (Yogyakarta: Ombak, 2016), hlm. 69–76.
- Djoko Marihandono & Bondan Kanumoyoso, Jalur Rempah dan Dinamika Masyarakat Nusantara (Jakarta: Direktorat Sejarah, 2018), hlm. vi–vii.
- Bondan Kanumoyoso, “Malay Maritime World in Southeast Asia,” Journal of Maritime Studies and National Integration, Vol. 2 No. 1 (2018): hlm. 16–22.
- Nicholas Tarling (ed.), The Cambridge History of Southeast Asia, Vol. 1 (Cambridge: Cambridge University Press, 1992), hlm. 345–368.
- UNESCO World Heritage Centre. (2008). Melaka and George Town, Historic Cities of the Straits of Malacca. Diakses dari: https://whc.unesco.org/en/list/1223
